Selasa, 20 Juli 2010

Ivan Gunawan as Designer


Gempita Gianyar 2010 Kembali Digelar di Kota Terbaik di Asia

Jakarta,23 Juni 2010/Infoonesia - Festival Seni, Budaya dan Fashion Tahunan Terbesar di Ubud Menandai Perayaan Masyarakat Gianyar atas Terpilihnya Ubud sebagai “Best City in Asia” Gempita Gianyar, sebuah festival budaya akbar kembali digelar untuk ketiga kalinya pada tanggal 2-3 Juli 2010 mendatang di Ubud. Festival yang dimaksudkan sebagai ajang apresiasi dan pelestarian seni dan budaya Bali ini, kali ini juga diselenggarakan sebagai sebuah perayaan atas terpilihnya Ubud sebagai “The Best City in Asia” oleh majalah wisata Conde Nast Traveller yang berbasis di Amerika Serikat. Bupati Gianyar Ir. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, Msi mengatakan, “Kami sangat berbangga bahwa Ubud, satu dari tujuh kecamatan di Kabupaten Gianyar, menarik perhatian dunia dan dianggap sebagai tempat tercantik di Asia. Ini merupakan predikat yang luar biasa dan perlu dirayakan oleh masyarakat Gianyar. Gempita Gianyar adalah program tahunan kebanggaan kami, yang melalui berbagai kreatif acara bertujuan tidak lain untuk mempromosikan Gianyar sebagai Bumi Kesenian Bali dan sebagai sebuah destinasi wisata seni dan budaya yang terjaga keindahan dan keasliannya”. Bupati juga mengundang masyarakat luas, wisatawan dan peminat seni budaya untuk datang dan menyaksikan gelaran Gempita Gianyar 2010.Perayaan yang diharapkan mampu menarik lebih dari 5.000 wisatawan dalam negeri maupun manca negara ini ditandai dengan empat acara utama yang akan diadakan selama beberapa hari di pusat kota Ubud, yaitu pagelaran TRI HITA KARANA, parade UBUD STREET BASH, PELIATAN ROYAL HERITAGE DINNER dan YOUTH ART CAMP. Atraksi budaya yang membuka festival Gempita Gianyar adalah Pagelaran TRI HITA KARANA, sebuah pertunjukan kolaborasi tari dan musik Bali di atas panggung terbuka di Lapangan Astina Ubud yang akan diadakan pada tanggal 2 Juli 2010. Suguhan ini memadukan karya dan penampilan maestro-maestro tari asal Bali yang namanya harum hingga ke tingkat internasional yaitu I Ketut Rina dan I Nyoman Sura, dimeriahkan oleh penyanyi Ayu Laksmi dan Gita Gutawa, serta paduan maestro musik Bali Anak Agung Oka Dalem dan Bona Alit. TRI HITA KARANA akan mempersembahkan sajian yang unik, inspiratif sekaligus magis di bawah arahan music director Dewa Budjana dan art director Jay Subyakto, didukung oleh lebih dari 100 penampil di atas panggung. Filosofi yang mendasari konsep pagelaran, seperti dijelaskan oleh Dewa Budjana, “TRI HITA KARANA sendiri memiliki makna konsep hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam dan manusia dengan sesamanya. Pertunjukan ini diharapkan dapat membentuk pemahaman akan wajah Bali yang utuh, mengingat masih banyak elemen budaya, karya seni dan insan-insan seni penuh talenta yang kurang dikenal oleh bangsa sendiri.” Budjana dengan kepekaan tinggi menyatukan seniman-seniman tradisional dengan musisi-musisi modern yang juga merupakan representasi dari generasi muda. Ia membuktikan bahwa seni budaya otentik bangsa dapat dilestarikan secara ajeg, berpadu cantik dengan sentuhan masa kini dan menjadi pesta rakyat yang dapat dinikmati oleh semua orang. Dengan tema “Kekinian Harus Berdasarkan Tradisi”, pagelaran TRI HITA KARANA ingin menggelitik pemirsanya dengan pesan bahwa seni dan budaya dapat dikembangkan sebagai sebuah keindahan namun tetap terjaga keajegan tradisinya. Atraksi berikutnya adalah UBUD STREET BASH pada tanggal 3 Juli 2010, yaitu sebuah karnaval musik dan busana yang dilakukan di jalan utama Ubud pada pukul 16.00 WITA, mulai dari Puri Ubud dan berakhir di lapangan Astina Ubud. Jumlah peserta diperkirakan mencapai 1.000 orang, diantaranya penampilan parade Ogoh-Ogoh persembahan dari tujuh kecamatan di Gianyar, parade dari peserta Ubud Festival dan fashion show oleh 22 desainer yang akan menggelar koleksi tenun Bali terbaik bernuansa resort wear. Para perancang busana yang akan memamerkan karya rancang kreatifnya adalah Chossy Latu, Denny Wirawan, Ivan Gunawan, Barli Asmara, Ali Charisma, Ari Seputra, Adesagi Kierana, Danny Satriadi, Angelica Wu, Dina Midiani, Dwi Iskandar, Enny Ming, Lenny Agustin, Malik Moestam, Monika Weber, Yenli Wijaya, Oka Diputra, Putu Aliki, Sofie, Tude Togog, Tjok Abi, Taruna K Kusmayadi, Defryco Audy dan Thomas Sigar. Tema busana dari bahan tenun diangkat dalam misi untuk mengangkat kembali hakikat luhur Tenun Bali dengan berbagai sentuhan baru baik dari sisi motif, desain dan kualitas. Arak-arakan ini juga akan diiringi oleh kelompok-kelompok musik dan tari terbaik Gianyar seperti kelompok gong kebyar, bale ganjur dan sebagainya. UBUD STREET BASH akan menjadi sebuah ajang parade budaya terbesar yang pernah diselenggarakan di Ubud. Gempita Gianyar tahun ini menyelenggarakan pula YOUTH ART CAMP (YAC), sebuah program pengenalan budaya bagi anak-anak muda usia 15-20 tahun yang memiliki minat untuk mempelajari seni, budaya dan tradisi Bali. Selama 5 hari 4 malam, peserta YAC akan belajar langsung dari seniman dan budayawan Bali tentang nilai-nilai seni dan tradisi penting Bali, dan akan tampil pula sebagai pendukung acara dalam pagelaran TRI HITA KARANA. Sebagai acara penutup festival Gempita Gianyar, akan diselenggarakan PELIATAN ROYAL HERITAGE DINNER, sebuah jamuan makan malam elegan dengan penyajian ala kerajaan Bali yang diadakan pada tanggal 3 Juli 2010 pukul 19.30 WITA di Puri Agung Peliatan. Jamuan makan malam ini akan berupaya mengangkat keagungan tradisi kerajaan Gianyar, dengan akar tradisi bersantap yang otentik, menyajikan hidangan khas Bali bercita rasa tinggi. PELIATAN ROYAL HERITAGE DINNER akan dihadiri oleh kalangan terbatas yang terdiri dari jajaran pemerintah Gianyar dan Bali serta daerah-daerah sahabat, serta pemuka masyarakat setempat dan perwakilan berbagai pihak yang turut mensukseskan penyelenggaraan Gempita Gianyar tahun ini. “Gempita Gianyar dirancang dengan mempertimbangkan semua aspek pelestarian sosial budaya Bali. Oleh sebab itu, setiap acara pada festival Gempita Gianyar bervariasi dan menyentuh berbagai unsur mulai dari seni tari, seni musik, seni busana dan bahkan penekanan pada pentingnya regenerasi dalam misi pelestarian keajegan seni dan budaya tradisional”, demikian jelas Marayuna A. Nasution dari Sekar Saji Nusantara. Sebagai sebuah lembaga nirlaba yang aktif dan konsisten dalam menggali potensi sosial budaya di Bali maupun daerah lain di Indonesia, Sekar Saji Nusantara tidak pernah kehabisan gagasan untuk mempromosikan kekayaan daerah Gianyar yang juga disebut sebagai Bumi Kahyangan-nya Bali.Gempita Gianyar 2010 dipersembahkan melalui kerjasama antara Sekar Saji Nusantara dan Pemerintah Kabupaten Gianyar, dan diselenggarakan oleh Pesona Disain Mamuli dan Dua Synergy Communications, serta disponsori oleh Bank Mandiri dan La Tulipe Cosmetiques.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar